Artinya program yang gagal kemudian di-rebranding, saya kira kami mendorong dan mendukung itu karena dia (Anies Baswedan) harus menawarkan hal yang baru," kata Gembong saat dihubungi, Selasa, 2 Oktober 2018.
Kegagalan itu, kata dia, tampak dari jumlah kendaraan yang tergabung dalam OK OTrip. Pemprov DKI hanya mampu menggaet 200 unit kendaraan sementara targetnya 2.000 unit di tahun ini.
Dia berujar, sudah seharusnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memikirkan konsep transportasi umum yang saling terintegrasi. Dengan begitu, masyarakat dapat menikmati transportasi umum yang aman, nyaman, dan harga terjangkau.
"Arah kita pengelolaan transportasi massal sudah ke sana (terintegrasi)," ujar Gembong.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan berencana mengubah nama program OK OTrip. Dia menginginkan nama baru untuk moda transportasi umum yang terintegrasi dalam satu sistem.
Pelaksana tugas Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Sigit Wijatmoko mengatakan, perubahan OK OTrip bukan sebatas nama tetapi juga konsep. “Semua moda transportasi umum melebur dalam branding tersebut," kata Sigit.
Menurut Sigit, saat ini perubahan itu masih dirumuskan. Aspek yang dibicarakan antara lain integrasi transportasi umum berbasis jalan dengan rel, jenis kendaraan, dan pelayanan yang terintegrasi.
Anies pun mengganti nama Ok Otrip menjadi Jak Lingko.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengumumkan nama baru untuk program OK Otrip. Nama baru untuk program integrasi transportasi di Jakarta itu adalah Jak Lingko.
Anies mengatakan Jak Lingka diambil dari kosakata bahasa Indonesia yang baru dimasukkan ke dalam Kamis Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pada Oktober 2018 akhir nanti, kata itu berarti jejaring atau integrasi. Menurutnya, nama tersebut mencerminkan identitas bangsa Indonesia.
Comments
Post a Comment