Nama Ayahandanya Disamakan Dengan Sandiaga Uno, Anak Bung Hatta Soroti Kejujuran & Integritas Wan Bango
PUTRI bungsu Bung Hatta, Halida Nuriah Hatta, melihat ada niat lain atas pernyataan tim pemenangan Pra-bowo-Sandi saat menyamakan sang ayah dengan calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno. Ia pun menyayangkan hal tersebut.
"Niatnya ada yang beda kelihatannya. Bisakah meniru Bung Hatta dari sisi bahwa beliau punya niat membangun Indonesia? Karena Bung Hatta selama ini tidak pernah mempunyai kepentingan untuk pribadi," ujarnya.
Halida mempertanyakan di era serbamudah seperti sekarang, ada-kah politikus yang benar-benar me-mentingkan negara di atas kepenting-an pribadinya ketika berkontestasi.
Semestinya, kata dia, ketika seseorang masuk ke ranah politik, dia harus komitmen atas cita-cita bahwa apa yang dilakukannya nanti semata-mata untuk melayani rakyat, meningkatkan harkat hidup dan martabat Indonesia sebagai negara yang berdaulat.
"Saya tidak mau menilai (pernyataan Sandiaga). Masyarakat sekarang sudah pintar bisa menilai sendiri kejujuran dan integritasnya (calon yang bertarung)," kata dia.
Halida pun meminta politisasi Bung Hatta untuk kepentingan politik berhenti sampai di sini. Ia sepakat dengan sang anak, yakni Gustika, bahwa politisasi Bung Hatta saat pilpres terlampau basi.
Dia menambahkan masyarakat juga sudah cukup cerdas untuk menggunakan hak pilihnya. Ia yakin siapa pun calon yang dipilih oleh rakyat ialah orang yang memang memperjuangkan nasib rakyat dan mampu membawa Indonesia menjadi negara yang terhormat dan bermartabat. "Untuk menjadi bangsa yang terhormat itu, kita bentuk sendiri dengan toleransi antarsesama, kita tidak lari ke hal primordial yang tidak perlu. Kita punya kedewasaan dan Bung Hatta juga mengharapkan kedewasaan dalam berpolitik.''
Sejarawan Bonnie Triyana menilai cukup mudah jika ingin mengidentifikasikan diri seperti Bung Hatta atau Bung Karno jika hanya dari penampilan. Namun, mengidentikkan apalagi menyejajarkan diri dengan tokoh atau negarawan jauh lebih sulit.
Menurut Bonnie, satu kelompok tidak bisa menggunakan seorang tokoh apalagi tokoh itu merupakan penggagas bangsa dan negara sebagai komoditas politik. Mengikuti pemikiran atau pengagum masih mungkin, tetapi ketika dijadikan komoditas politik, tidak pantas.
Comments
Post a Comment