Akhir-akhir ini baik Prabowo dan Sandiaga Uno kerap kali melontarkan statement-statement kontroversial dengan narasi kebohongan seperti "tempe setipis ATM", "seratus ribu hanya dapat cabe dan bawang", bahkan Prabowo sebelumnya telah melakukannya terlebih dulu dengan mengutip karya fiksi The Ghost Fleet yang menakut-nakuti masyarakat kalau Indonesia bubar tahun 2030. Ternyata kebohongan demi kebohongan ini adalah bagian dari strategi kampanye Prabowo-Sandi yang tujuannya tidak hanya mencuri perhatian publik, namun tujuan yang lebih masif lagi adalah untuk merusak kepercayaan masyarakat. Anggota DPR RI dari PDI Perjuangan Budiman Sudjatmiko membagikan strategi melawannya. Berikut ini merupakan copy paste dari yang bersangkutan:
Dgn sering membuat klaim palsu & meralatnya mrk berharap orang lama2 tdk percaya pd apapun...
Ketidakpercayaan rakyat pemilih pd apapun ini terjadi krn mereka menuduh lawannya berbohong spt mrk. Bedanya: "kami minta maaf". Dlm hal ini mrk menang 1 langkah
Yg dirusak dlm kampanye "buat klaim palsu & meralat" berkali2 ini adalah LOFC batang otak yg berfungsi menyerap banyak informasi kompleks sblm membuat keputusan apapun
Dgn LOFC otak rusak, pemilih2 akhirnya bilang gini: "sudahlah gak usah mikir yg rumit2. Pilih aja yg orangnya keren. Yang 'guwe banget!' atau 'yg 1 kelompok (agama/suku dll) dgn kita' ". Di situlah kewarasan dirusak. Dan ini gak ada hubungannya dgn IQ !!
Dari sana statistik, infografik, analisis makro (bagi petahana) & visi misi/program capres/cawapres manapun dll jadi tdk lagi ampuh memengaruhi pemilih yg sdh dirusak LOFC-nya...
Pemilih akan lebih ingat "tempe setipis kartu ATM", "emak2", "emak2 dianiaya" (tp yg ini sdh kita gagalkan). Jika klaim2 palsu yg lain tdk kita gagalkan, celotehan2 tadi yg akan diingat pemilih di TPS. Mau IQ rendah atau tinggi!!
Bgm menghadapinya? Ada 2 cara:
1. Bagi klaim palsu yg menjurus pidana (spy "Nenek Ratna yg emak2 dianiaya") bisa diurus scr hukum (sdg berlangsung)
2. Bagi yg bkn tindak pidana & sdh minta maaf (spt fitnah Sandi ke bu Susi) atau tempe kartu ATM, lebih rumit
Saya berpendapat tipe klaim palsu yg ke 2 (yg lbh ringan tp jauh lebih sering & intensif merusak LOFC otak pemilih), memulihkannya bukan dgn data atau infografis semata tp dgn metafor yg etis, estetis (dlm hal ini menghibur) & logis (ditunjang data)
Karena mayoritas pemilih Indonesia tradisinya adalah menonton & mendengar (bukan membaca), maka TV atau youtube jd sangat penting drpd data2 infografis yg statis
Karena itu pakailah metafor2 utk melawan serbuan klaim palsu yg ringan tp intensif dlm merusak LOFC pemilih2
Nah dari 3 unsur metafor (yg etis, estetis & logis), mana yg harus ditonjolkan?
Dalam situasi normal, tonjolkan sisi etis dr metaformu. Dalam menghadapi orang2 yg lebih rasional, tonjolkan sisi yg logis (masuk akal) dr metaformu
Namun dlm menghadapi pertarungan di mana LOFC batang otak orang2 dirusak secara intensif & dibuat suntuk/malas mikir yg berat2 karenanya/limbung krn diainformasi yg sengaja mereka sebar, tonjolkan sisi estetis metaformu. Hiburlah mereka spy jernih kembali
Inilah resep utk mengalahkan politisi2 pembuat hoax:
1. Hukum politisi2 itu (jika hoax-nya melanggar UU)
2. Hibur rakyat (supaya keluar dr kesuntukan & kelimbungan disnformasi yg berlimpah) => bangkitkan etikanya => ajak #2019WarasBareng
Comments
Post a Comment